Mengapa menuntut ilmu itu harus bertemu dengan guru?

Menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Saat ini dengan kemajuan teknologi yang ada, maka kita bisa mengambil ilmu dari berbagai macam sumber, baik bertemu langsung dengan guru sehingga bisa berinteraksi dua arah di dunia nyata ( di sekolah, madrasah, pesantren dll), bertemu dengan guru melalui sarana alat komunikasi sehingga bisa berinterkasi dua arah di dunia maya (google meet, zoom meeting, video call dll, menyimak ilmu yang disampaikan oleh guru melalui media sosial (youtube, facebook, Instagram dll), atau membaca tulisan para guru melalui buku-buku karya mereka ataupun tulisan mereka di media sosial.

Berbagai macam sarana tersebut sangat membantu para penuntut ilmu untuk memperdalam dan memperluas ilmu mereka, terlebih lagi pada saat ini kita masih menghadapi pandemic covid-19 yang entah kapan akan berakhir, sehingga segala aktifitas dibatasi, seperti aktifitas ekonomi, pendidikan, olahraga, bahkan ibadah. Hal ini menyebabkan aktifitas pendidkan yang biasanya dilakukan di sekolah dengan metode tatap muka langsung antara guru dengan para siswa diganti dengan pembelajaran melalui media internet.

Tentu akan ada perbedaan antara pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran melalui media internet dan media lainnya yang menyebabkan tidak bertemunya guru dengan para siswa secara langsung, diantaranya:

1. Berkurangnya keberkahan perjalanan menuntut ilmu

Jika menuntut ilmu di sekolah memerlukan perjalanan yang harus ditempuh, maka pembelajaran secara daring tidak memerlukan itu. Siswa cukup berada di rumah dan membuka aplikasi yang dibutuhkan, kemudian bisa langsung belajar dari rumah. Padahal keluarnya seseorang untuk menuntut ilmu adalah sebuah ibadah, bahkan dihitung seperti pahala jihad fi sabilillah, sebagaimana sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi:

مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِي سَبِيْلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ

Artinya: “barangsiapa yang keluar dalam rangka menuntut ilmu maka ia berada di jalan Allah sampai ia pulang”.

2. Berkurangnya adab terhadap guru

Jika menuntut ilmu di sekolah para siswa wajib berpakaian seragam yang rapih, bertemu dengan guru mengucapkan salam dan mencium tangan, duduk dengan rapih di dalam kelas, berinteraksi dengan guru dengan adab-adab yang biasa diajarkan, maka dengan pembelajaran daring adab-adab tersebut sering berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Seragam yang dipakai sekedarnya saja, ada yang memakai seragam atasnya saja (hanya yang terlihat di kamera) sementara bawahannya memakai celana untuk bermain, mengucapkan atau menjawab salam sekedarnya saja bahkan dengan posisi badan yang semaunya, kadang kala ketika guru sedang menjelaskan, siswa mematikan kamera dan melakukan aktifitas yang lain dsb. Padahal adab terhadap guru merupakan salah satu perintah Rasulullah saw, sebagaimana sabdanya:

تَعَلّمُواالعِلْمَ وَتَعَلّمُوْا لِلْعِلْمِ السّكِيْنَةَ وَالْوَقَا رَ وَتَوَاضَعُوْا لِمَنْ تَتَعَلّمُوانَ مِنْهُ

Artinya:

“Belajarlah kalian ilmu untuk ketentraman dan ketenangan serta rendah hatilah pada orang yang kamu belajar darinya”. (H.R Thabrani)

(تَعَلَّمُوْاوَعَلِّمُوْاوَتَوَاضَعُوْالِمُعَلِّمِيْكُمْ وَلَيَلَوْا لِمُعَلِّمِيْكُمْ ( رَواهُ الطَّبْرَانِيْ

Artinya:

“Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu.” (HR Tabrani)

3. Berkurangnya adab terhadap ilmu

Jika adab kepada guru berkurang, maka otomatis adab terhadap ilmu pun akan berkurang. Jika menuntut ilmu di sekolah para siswa dituntut untuk memiliki adab yang baik terhadap ilmu, seperti mendengarkan dengan baik penjelasan guru, duduk dengan penuh takdzim, memperlakukan sarana ilmu (seperti buku, alat tulis, al-Quran dll) dengan baik, maka dengan pembelajaran daring adab-adab tersebut sering kali dilupakan. Ada siswa yang belajar sambal tiduran, belajar sambil main game online, menaruh buku dan sarana-sarana belajar lainnya semaunya.

4. Hilangnya keteladanan para guru

Pembelajaran yang dilakukan secara langsung di sekolah, bukan hanya sekedar transfer ilmu dari guru terhadap para siswa, akan tetapi juga adanya keteladanan yang dicontohkan oleh para guru dalam kehidupan sehari-hari yang dilihat langsung oleh para siswa dan menjadi contoh bagi mereka, dengan pembelajaran daring, maka itu semua tidak akan bisa didapatkan oleh para siswa.

Demikianlah beberapa hal yang hilang dari proses pendidikan kita jika hanya dilakukan secara daring. Semoga kita bisa mendapatkan manfa’at daripaadanya. aamiin

Ustadz. Mulyana, S.Pd.I | Kabid Pendidikan & Pengajaran (Dikjar)