“Tidak ada yang lebih pintar dari saya”

Di dalam berbagai kitab hadits seperti shahih Bukhari, Shahih Muslim dan yang lainnya, dikisahkan bahwa Nabi Musa ‘alaihis salam berkhutbah dan memberi wejangan di hadapan Bani Israil air mata mereka mengalir dan hati mereka menjadi trenyuh. Setelah itu Nabi Musa pun berpaling, lalu ada seseorang menyusul beliau dan bertanya, “Wahai utusan Allah, apakah di atas muka bumi ini ada yang lebih berilmu darimu?”  Nabi Musa menjawab, “Tidak ada”.  Maka Allah pun menegur Nabi Musa ‘alaihis salam karena beliau tidak mengembalikan ilmu (tentang jawaban pertanyaan tersebut) kepada Allah swt.

            Lalu Allah mewahyukan kepada Musa; ‘Hai Musa, sesungguhnya ada seorang hamba-Ku yang lebih banyak ilmunya dan lebih pandai darimu dan ia sekarang berada di pertemuan dua lautan.’ Nabi Musa ‘Alaihissalam bertanya; ‘Ya Tuhan, bagaimana caranya saya dapat bertemu dengan hamba-Mu itu? ‘ Dijawab; ‘bawalah seekor ikan di dalam keranjang, kapan engkau kehilangan ikan tersebut maka di situlah hamba-Ku berada.’ Kemudian Musa pun berangkat ke tempat itu dengan ditemani muridnya yang bernama Yusya’ bin Nun. Maka Musa berkata kepada muridnya : “Aku tidak menugaskan engkau kecuali engkau mengabarkan kepadaku jika ikan telah terpisah darimu”. muridnya berkata, “Engkau tidak membebani tugas yang berat”.

            Setelah Nabi Musa dan muridnya melakukan perjalanan yang jauh dan mengalami beberapa kejadian yang aneh, di antaranya ikan yang dibawa oleh murid Nabi Musa hidup kembali -padahal sebelumnya telah mati- kemudian masuk ke dalam laut dan merasa letihnya Nabi Musa dalam melakukan perjalanan -padahal sebelumnya Nabi Musa tidak pernah merasa letih- , Maka mereka melihat seorang laki-laki yang sedang berselimutkan kain. Lalu Nabi Musa ‘Alaihissalam mengucapkan salam kepadanya. Nabi Khadhir bertanya kepada Musa; “Bagaimana bisa ada ucapan salam di negerimu?”. Musa berkata; “Saya adalah Musa.’ Nabi Khadhir terperanjat dan bertanya; ‘Musa Bani Israil.’ Nabi Musa menjawab; ‘Ya.’ Nabi Khadhir berkata kepada Musa; ‘Sesungguhnya kamu mendapatkan sebagian ilmu Allah yang diajarkan-Nya kepadamu yang tidak aku ketahui dan aku mendapatkan sebagian ilmu Allah yang diajarkan-Nya kepadaku yang kamu tidak ketahui.’ Musa berkata kepada Khadhir; ‘Bolehkah aku mengikutimu agar kamu dapat mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu? ‘Nabi Khadhir menjawab; ‘Sesungguhnya sekali-kali kamu tidak akan sanggup dan sabar bersamaku. Bagaimana kamu bisa sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu? ‘ Musa berkata; ‘In sya Allah kamu akan mendapatiku sebagai orang yang sabar dan aku pun tidak akan menentangmu dalam suatu urusan pun.’ Khadhir menjawab; ‘Jika kamu tetap mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan sesuatu hingga aku sendiri yang akan menerangkannya kepadamu.’ Musa menjawab; ‘Baiklah’.”

Nabi Musa telah berjanji kepada Nabi Khadir untuk bersabar terhadap apapun yang dilakukan oleh Nabi Khadir dan tidak akan menanyakannya sebelum dijelaskan, akan tetapi ketika Nabi Musa melihat kejadian-kejadian yang menurut beliau aneh, maka Nabi Musa pun tidak sabar dan berkali-kali bertanya kepada Nabi khadir,  sebagaimana yang terdapat dalam Q.S Al-Kahfi ayat 71- 82, sehingga akhirnya mereka berdua pun berpisah setelah Nabi Musa mendapatkan penjelasan tentang apa yang dilakukan oleh Nabi Khadir yang dianggap aneh.

Dari kisah ringkas di atas, kita bisa mengambil beberapa pelajaran dalam hal ilmu, di antaranya:

  1. Tidak boleh seseorang mengatakan bahwa tidak ada orang yang lebih pintar daripada saya. Nabi Musa ‘alaihis salam ketika mengatakan “tidak ada yang lebih pintar dari saya” bukan karena sombong, akan tetapi karena sepengetahuan beliau di kalangan Bani Israil tidak ada yang lebih berilmu dari Nabi Musa ‘alaihis salam. Ini saja ditegur oleh Allah swt, apalagi jika kita mengatakannya karena kesombongan.
  2. Pentingnya menuntut ilmu. Nabi Musa ‘alaihissalam meninggalkan Bani Israil untuk menuntut ilmu. Seorang Nabi saja masih mau untuk menuntut ilmu yang belum diketahuinya, apalagi manusia biasa yang ilmunya sangat sedikit.
  3. Keutamaan bersafar dan bersabar dalam menuntut ilmu. Nabi Musa ‘alaihissalam bersafar untuk mencari ilmu. Sampai beliau mengatakan rela untuk berjalan sampai bertahun-tahun untuk bertemu dengan nabi Khadhir ‘alaihissalam untuk belajar. Oleh karenanya para ulama tatkala mengomentari sabda Rasulullah ﷺ,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Dan barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”

Para ulama mengatakan bahwa Rasulullah mengkhususkan penyebutan ilmu merupakan jalan menuju surga karena jalan tersebut adalah jalan termudah yang bisa ditempuh dan ilmu itu dapat membuka pintu-pintu kebaikan yang lain.

  • Bolehnya seseorang mengambil pembantu. Akan tetapi dalam rangka mengambil pembantu, hendaknya mencari orang yang cerdas sebagaimana nabi Musa ‘alaihissalam mengambil Yusya’ bin Nun sebagai pembantu. Karena Yusya’ bin Nun setelah hari itu kelak diangkat menjadi nabi.
  • Hendaknya seseorang mengambil ilmu dari orang di bawahnya. Nabi Musa ‘alaihissalam lebih utama daripada nabi Khadhir ‘alaihissalam. Akan tetapi karena nabi Musa ‘alaihissalam tidak memiliki ilmu yang dimiliki oleh nabi Khadhir, maka Musa rela untuk menemui Khadhir. Oleh karena itu seseorang hendaknya tidak angkuh, karena bisa jadi dia seorang yang alim, akan tetapi ada suatu bidang ilmu yang dia tidak ketahui.
  • Hendaknya seseorang tatkala belajar dengan seorang guru, mengucapkan perkataan yang merendah. Kata para ulama, tatkala seorang menuntut ilmu harus menunjukkan kebutuhan terhadap seorang guru. Tidak boleh menyombongkan diri dengan menunjukkan rasa tidak butuh.
  • Hendaknya seorang pembantu memakan apa yang dimakan oleh tuannya. Sebagaimana nabi Musa ‘alaihissalam hendak makan bersama.
  • Hendaknya seseorang bersabar hingga mendapatkan hikmah di balik setiap peristiwa. Sebagaimana nabi Musa ‘alaihissalam tidak dapat bersabar dari peristiwa yang dilihatnya karena tidak mengetahui hikmah dibalik itu. Oleh karena itu tatkala seseorang menyadari bahwa ada hikmah dari setiap musibah yang menimpanya, maka pasti dia akan mampu untuk bersabar. Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa tatkala seseorang terkena musibah, terkadang Allah langsung menampakkan hikmahnya, terkadang Allah menunda hingga bertahun-tahun, dan bahkan terkadang tidak dapat seseorang ketahui hikmahnya. Sehingga tatkala seseorang tidak dapat mengetahui hikmah di balik musibah yang menimpanya, hendaknya dia melihat kisah nabi Musa ‘alaihissalam dan nabi Khadhir ‘alaihissalam, karena Musa ‘alaihissalam yang sebagai nabi sendiri tidak paham hikmah dibalik perbuatan nabi Khadhir ‘alaihissalam.

Ustadz. Mulyana, S.Pd.I | Kabid Pendidikan & Pengajaran (Dikjar)