PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN DARING SELAMA MASA PANDEMI COVID-19-Bagian 1

Saat ini dunia sedang dilanda penyebaran sebuah virus yang dikenal dengan corona virus disease (Covid-19) yang kini saat ini menjadi sebuah pandemi. Virus  ini bisa menyerang siapa saja dan bisa menyebabkan kematian, bahkan sudah banyak korban meninggal yang disebabkan virus ini,  oleh sebab itu perlu adanya tindakan dan kebijakan yang harus diambil oleh pemerintah untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19 di dunia dan negara kita Indonesia. Pandemi ini berdampak pada berbagai bidang sosial, ekonomi, agama, pendidkan dan lainnya. Bidang pendidikan pun mengalami dampak yang cukup signifikan. Sekolah dan perguruan tinggi ditutup dan pembelajaran dilakukan secara daring (dalam jaringan).

Perubahan proses kegiatan belajar dan mengajar  yang tadinya dilakukan secara tatap muka, saat ini dilakukan secara jarak jauh (dalam jaringan) melalui jaringan internet. Hampir seluruh sekolah atau perguruan tinggi di seluruh dunia saat ini hanya memaksimalkan pembelajaran dengan metode daring. Namun ternyata pembelajaran dengan model seperti ini menimbulkan berbagai macam problematika yang dihadapi oleh guru, siswa dan lembaga penyelenggara pendidikan. Dalam kesempatan ini kita akan membahas problematika yang dihadapi oleh para guru  yang akan kita bahas secara singkat berikut ini:

  1. Membutuhkan ponsel pintar, komputer, atau laptop

Pembelajaran secara daring memaksa para guru untuk memiliki ponsel pintar, komputer atau laptop  yang bisa mendukung pembelajaran, padahal tidak semua guru memiliki ponsel pintar, komputer atau laptop,  terutama para guru honorer yang gajinya sedikit yang hanya cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari secara sederhana.

  • Membutuhkan kuota yang banyak

Guru yang memiliki ponsel pintar, komputer atau laptop  tidak secara otomatis bisa melakukan pembelajaran secara daring, karena ponsel pintar, komputer atau laptop pun tidak akan bisa berfungsi apabila tidak memiliki kuota internet yang harganya lumayan mahal, apalagi jika pembelajaran daring dilakukan setiap hari dalam jangka waktu yang lama. Apalagi bagi guru honorer, gaji mereka yang kecil, dipaksa untuk dibagi antara memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan pembelian kuota.

  • Membutuhkan kemampuan untuk menggunakan aplikasi ponsel pintar

Guru yang memiliki ponsel pintar dan memiliki kuota pun masih memiliki problem lain, yaitu harus memiliki kemampuan untuk menggunakan aplikasi pembelajaran yang terdapat di ponsel pintar, computer maupun laptop. Hal ini dikarenakan pembelajarn secara daring menggunakan aplikasi pembelajaran seperti google form, WhatsApp, google meet, zoom dll yang membutuhkan kemampuan untuk menggunakannya.

  • Jaringan internet yang tidak stabil

Salah satu problem yang dihadapi guru –dan juga siswa- adalah jaringan internet yang kadangkala tidak stabil, terutama di daerah-daerah yang jauh dari perkotaan dan terpencil, sehingga seringkali proses pembelajaran terganggu.

  • Tidak semua siswa memiliki ponsel pintar, komputer atau laptop

Pembelajaran daring tidak hanya menuntut guru yang memiliki ponsel pintar, komputer atau laptop, akan tetapi juga para siswa dituntut untuk memiliki hal yang serupa. Seringkali para siswa tidak memiliki alat-alat tersebut, atau jika orang tua mereka memilikinya, mereka harus berbagi dengan saudara-saudaranya jika di rumah mereka tidak hanya satu orang yang belajar dalam waktu yang bersamaan. Tentu hal ini menyulitkan juga kepada para guru untuk bisa mengajar para siswa seperti ini.

  • Waktu pembelajaran yang sangat terbatas

Pembelajaran daring yang membutuhkan kuota tentu sangat berpengaruh terhadap waktu pembelajaran, karena semakin lama pembelajaran berlangsung semakin banyak pula kuota yang dibutuhkan baik oleh guru maupun siswa, oleh karena itu pembelajaran secara daring waktunya sangat terbatas, sehingga seringkali target kurikulum tidak tercapai dan pembelajaran tidak tuntas.

Demikianlah beberapa problematika yang dihadapi oleh para guru dalam pembelajaran daring, tentunya masih banyak lagi problem yang dihadapi oleh para guru karena antara satu guru dengan guru yang lain akan mengahadapi problem yang berbeda.

Ustadz. Mulyana, S.Pd.I | Kabid Pendidikan & Pengajaran (Dikjar)