Metode-Metode Pengajaran Rasulullah ﷺ Bagian 2

Mengajarkan Syari’at Secara Bertahap

Selain metode pengajaran melalui praktek dan keteladan yang dilakukan dan dimiliki oleh Rasulullah ﷺ, beliau juga sangat memperhatikan tahapan dalam pengajaran. Inilah metode pengajaran Rasulullah ﷺ yang berikutnya yaitu mengajarkan syari’at secara bertahap. Beliau mendahulukan perkara yang paling penting, kemudian tingkatan di bawahnya. Dengan kata lain beliau mempunyai skala prioritas dalam pengajaran. Beliau juga mengajarkan syari’at sedikit demi sedikit dan secara bengangsur-angsur. Agar lebih mudah diterima dan lebih kokoh mengakar dalam hati, baik untuk dihafal, difahami maupun dipraktikkan.

Berikut ini beberapa hadits yang menunjukkan kepada kita bahwa Rasulullah ﷺ mengajarkan syari’at secara bertahap:

  1. Ibnu Majah meriwayatkan dari Jundab bin Abdullah r.a dia berkata:” Kami bersama nabi ﷺ, saat itu kami adalah para pemuda yang sebaya. Kami belajar tentang keimanan sebelum belajar tentang Al-Qur’an. Kemudian kami belajar tentang Al-Quran. Sehingga dengannya bertambahlah keimanan kami. (1/23 dalam Muqaddimah, bab fi Al-Iman)
  2. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah ﷺ mengirim Mu’adz ke Yaman, beliau pun berpesan, “Engkau akan mendatangi penduduk dari kalangan Ahli Kitab. Ajaklah mereka kepada persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah dan diibadahi kecuali Allah ﷻ dan bahwa aku adalah utusan Allah ﷻ. Jika mereka telah menaatimu atas hal itu, maka beritahu mereka bahwa Allah ﷻ telah mewajibkan atas mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka lalu dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka. Jika mereka sudah menaatimu atas hal tersebut, maka jauhilah harta-harta paling berharga milik mereka. Takutlah kamu terhadap do’anya orang yang terzhalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dan Allah ﷻ.  (H.R. Bukhari-Muslim)
  3. Imam Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya, dari Muhammad bin Fudhail dari Atha’ dari Abu Abdurrahman As-Sualmi Al-Muqri dia berkata: Telah mneceritakan kepada kami seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang mengajarkan bacaan Al-Quran kepada kami, bahwa mereka mempelajari sepeuluh ayat dari Rasulullah ﷺ, mereka tidak mempelajari sepuluh ayat lainnya sehingga mengetahui ilmu dana mal yang ada di dalamnya.
  4. Ath-Thabari mengeluarkan riwayat dalam tafsirnya, dari Al-Husain bin Waqid, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy dari Syaqiq dari Ibnu Mas’ud, dia berkata: Setiap orang di antara kami jika mempelajari sepuluh ayat Al-Quran, dia tidak akan menambah (mempelajari ayat lainnya) sampai mengetahui makna-makna yang terkandung di dalamnya dan beramal dengannya.

Demikianlah metode pengajaran yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ  kepada para sahabat, yaitu dengan cara mengajarkan mereka secara bertahap dimulai dari hal yang paling penting tentang tauhid dan keimanan-dan inilah yang menjadi tema dakwah Rasulullah ﷺ pada peride Makkah selama 13 tahun-, kemudian dilanjutkan dengan mengajarkan mereka syari’at-yang beliau lakukan pada periode Madinah selama 10 tahun. Rasulullah ﷺ juga mengajarkan kepada para duta dakwah beliau agar mereka mengajarkan Islam secara bertahap. Dan para sahabat pun ketika mereka mempelajari Al-Quran, mereka tidak mempelajarinya secara keseluruhan (sekaligus) akan tetapi secara bertahap agar selaras antara pemahaman dan praktik dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga kita sebagai guru dan da’i bisa meneladani rasululllah ﷺ dan para sahabat beliau r.a dalam mengajarkan Islam kepada anak didik kita dan objek dakwah kita, sehingga islam tidak hanya dihafal dan digahami saja, akan tetapi bisa terhunjam kuat dalam hati mereka dan menjalani amalan harian mereka.

Ustadz. Mulyana, S.Pd.I | Kabid Pendidikan & Pengajaran (Dikjar)