Metode-Metode Pengajaran Rasulullah ﷺ Bagian 3

Tidak Berlebihan dan Menghindari Kebosanan

Rasulullah ﷺselalu memperhatikan waktu dan kondisi para sahabat ketika beliau mengingatkan dan mengajarkan kepada mereka, agar mereka tidak bosan. Dalam urusan ini beliau selalu bersikap seimbang dan tidak berlebih-lebihan.

Berikut ini beberapa hadits yang menunjukkan kepada kita bahwa Rasulullah ﷺ mengajarkan syari’at secara tidak berlebihan dan menghidari kebosanan:

  1. Al-Bukhari dan Muslim meriwaytkan dari AL-A’masyi dari Syaqiq Abu Wa’il dia berkata: Kami duduk di dekat gerbang rumah Abdullah-bin Mas’ud- untuk menunggunya, lalu Yazid bin Mu’awiyah An-Nakha’I melewati kami, kamin pun berkata kepadanya, “Beritahu keberadaan kami (yang sedang menunggu) kepada Ibnu Mas’ud.” Yazid lalu masuk menemui Ibnu Mas’ud, lalu tidak lama Ibnu Mas’ud keluar menemui kami.dia berkata, “Aku telah diberitahu tentang keberadaan kalian, tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian kecuali karena aku tidak ingin membuat kalian jemu. Rasulullah ﷺ memberikan nasihat kepada kami dalam beberapa hari tertentu dalam sepekan karena khawatir kami jemu.” [1]
  2. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Manshur dan Syaqiq Abu Wa’il dia berkata: Abdullah bin Mas’ud memberi pelajaran kepada orang-orang setiap hari kamis, maka ada seorang laki-laki berkata, “Wahai Abu Abdurrahman-julukan Abdullah bin Mas’ud- kami menyukai dan menggemari pembicaraanmu, kami ingin engkau memberi pelajaran kepada kami setiap hari.” Abdullah berkata, “tidak ada yang menghalangiku untuk memberi pelajaran kepada kalian, kecuali aku tidak ingin membuat kalian bosan. Aku ingin memberikan nasihat kepada kalian, sebagaimana Nabi ﷺ melakukannya kepada kami karena beliau khawatir membuat kami bosan.” [2]
  3. Al-Bukhari dan Muslim meriwaytkan dari ANas bin Malik r.a dari Nabi ﷺ beliau bersabda: “ Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.” [3]

Demikianlah metode pengajaran yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ  kepada para sahabat, yaitu dengan cara mengajarkan mereka dengan memperhatikan kondisi mereka untuk menghindari kebosanan.

Semoga kita sebagai guru dan da’i bisa meneladani rasululllah ﷺ dan para sahabat beliau r.a dalam mengajarkan Islam kepada anak didik kita dan objek dakwah kita, sehingga pengajaran islam tidak dirasakan sebagai sesuatu yang membosankan. 


[1] Maksudnya beliau menjaga kondisi kami, sehingga beliau memperhatikan waktu kami dan memilih waktu dimana kondisi kami bersemangat untuk menerima nasihat. Dan beliau tidak memberi nasihat setiap hari agar kami tidak bosan. Beliau juga mengajarkan kepada kami dalam beberapa hari dan membiarkan sebagian hari lainnya karena khawatir membuat kami bosan. Beliau berusaha agar kami bisa mengambil ilmu dari beliau dalam keadaan semangat dan antusias, bukan dalam kondisi cemas dan bosan sehingga hilanglah tujuan dari nasihat beliau.

[2] Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata, “Dari hadits ini bisa diambil faidah diutamakannya untuk tidak bersikeras melakukan amal salih, jika dikhawatirkan muncul kebosanan. Adapun jika memang dikehendaki untuk menekuninya, hal itu bisa dilakukan dengan du acara: dilakukan setiap hari dengan tanpa memberatkan diri, atau sehari berseling sehari sehingga ada hari jeda agar bisa istirahat. Tiap orang bisa berbeda-beda tergantung kondisi dan pribadinya masing-masing. Yang menjadi patokan adalah kebutuhan, dengan tetap memperhatikan adanya semangat.

[3] Imam Nawawi berkata dalam Syarh Shahih Muslim “Dalam hadits ini terkandung perintah agar memberi kabar gembira akan adanya karunia Allah ﷻ, keagungan pahala-Nya, limpahan karunia-Nya, dan keluasaan rahmat-Nya. Terkandung pula larangan dari membuat orang lari dengan hanya menakut-nakuti dan memberi ancaman tanpa menyertainya dengan kabar gembira. Dalam hadits ini juga terdapat penjelasan agar melunakan hati orang yang baru masuk Islam dan tidak bersikap keras kepada mereka. Demikian pula terhadap anak kecil yang mendekati baligh dan baru baligh, serta orang yang baru bertaubat dari kemaksiatan. Semua kelompok seperti ini hendaknya diperlakukan dengan halus dan ditingkatkan secara bertahap untuk melakukan keta’atan sedikit demi sedikit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *