Macam-Macam Metode Pembelajaran

Macam-Macam Metode Pembelajaran

Berikut ini adalah penjelasan definisi, fungsi dan macam-macam metode pembelajaran yang digunakan di lembaga pendidikan mutiara hikmah.

Metode-Metode Pengajaran Rasulullah ﷺ Bagian 3

Metode-Metode Pengajaran Rasulullah ﷺ Bagian 3

Tidak Berlebihan dan Menghindari Kebosanan

Rasulullah ﷺselalu memperhatikan waktu dan kondisi para sahabat ketika beliau mengingatkan dan mengajarkan kepada mereka, agar mereka tidak bosan. Dalam urusan ini beliau selalu bersikap seimbang dan tidak berlebih-lebihan.

Berikut ini beberapa hadits yang menunjukkan kepada kita bahwa Rasulullah ﷺ mengajarkan syari’at secara tidak berlebihan dan menghidari kebosanan:

  1. Al-Bukhari dan Muslim meriwaytkan dari AL-A’masyi dari Syaqiq Abu Wa’il dia berkata: Kami duduk di dekat gerbang rumah Abdullah-bin Mas’ud- untuk menunggunya, lalu Yazid bin Mu’awiyah An-Nakha’I melewati kami, kamin pun berkata kepadanya, “Beritahu keberadaan kami (yang sedang menunggu) kepada Ibnu Mas’ud.” Yazid lalu masuk menemui Ibnu Mas’ud, lalu tidak lama Ibnu Mas’ud keluar menemui kami.dia berkata, “Aku telah diberitahu tentang keberadaan kalian, tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian kecuali karena aku tidak ingin membuat kalian jemu. Rasulullah ﷺ memberikan nasihat kepada kami dalam beberapa hari tertentu dalam sepekan karena khawatir kami jemu.” [1]
  2. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Manshur dan Syaqiq Abu Wa’il dia berkata: Abdullah bin Mas’ud memberi pelajaran kepada orang-orang setiap hari kamis, maka ada seorang laki-laki berkata, “Wahai Abu Abdurrahman-julukan Abdullah bin Mas’ud- kami menyukai dan menggemari pembicaraanmu, kami ingin engkau memberi pelajaran kepada kami setiap hari.” Abdullah berkata, “tidak ada yang menghalangiku untuk memberi pelajaran kepada kalian, kecuali aku tidak ingin membuat kalian bosan. Aku ingin memberikan nasihat kepada kalian, sebagaimana Nabi ﷺ melakukannya kepada kami karena beliau khawatir membuat kami bosan.” [2]
  3. Al-Bukhari dan Muslim meriwaytkan dari ANas bin Malik r.a dari Nabi ﷺ beliau bersabda: “ Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.” [3]

Demikianlah metode pengajaran yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ  kepada para sahabat, yaitu dengan cara mengajarkan mereka dengan memperhatikan kondisi mereka untuk menghindari kebosanan.

Semoga kita sebagai guru dan da’i bisa meneladani rasululllah ﷺ dan para sahabat beliau r.a dalam mengajarkan Islam kepada anak didik kita dan objek dakwah kita, sehingga pengajaran islam tidak dirasakan sebagai sesuatu yang membosankan. 


[1] Maksudnya beliau menjaga kondisi kami, sehingga beliau memperhatikan waktu kami dan memilih waktu dimana kondisi kami bersemangat untuk menerima nasihat. Dan beliau tidak memberi nasihat setiap hari agar kami tidak bosan. Beliau juga mengajarkan kepada kami dalam beberapa hari dan membiarkan sebagian hari lainnya karena khawatir membuat kami bosan. Beliau berusaha agar kami bisa mengambil ilmu dari beliau dalam keadaan semangat dan antusias, bukan dalam kondisi cemas dan bosan sehingga hilanglah tujuan dari nasihat beliau.

[2] Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata, “Dari hadits ini bisa diambil faidah diutamakannya untuk tidak bersikeras melakukan amal salih, jika dikhawatirkan muncul kebosanan. Adapun jika memang dikehendaki untuk menekuninya, hal itu bisa dilakukan dengan du acara: dilakukan setiap hari dengan tanpa memberatkan diri, atau sehari berseling sehari sehingga ada hari jeda agar bisa istirahat. Tiap orang bisa berbeda-beda tergantung kondisi dan pribadinya masing-masing. Yang menjadi patokan adalah kebutuhan, dengan tetap memperhatikan adanya semangat.

[3] Imam Nawawi berkata dalam Syarh Shahih Muslim “Dalam hadits ini terkandung perintah agar memberi kabar gembira akan adanya karunia Allah ﷻ, keagungan pahala-Nya, limpahan karunia-Nya, dan keluasaan rahmat-Nya. Terkandung pula larangan dari membuat orang lari dengan hanya menakut-nakuti dan memberi ancaman tanpa menyertainya dengan kabar gembira. Dalam hadits ini juga terdapat penjelasan agar melunakan hati orang yang baru masuk Islam dan tidak bersikap keras kepada mereka. Demikian pula terhadap anak kecil yang mendekati baligh dan baru baligh, serta orang yang baru bertaubat dari kemaksiatan. Semua kelompok seperti ini hendaknya diperlakukan dengan halus dan ditingkatkan secara bertahap untuk melakukan keta’atan sedikit demi sedikit.

 

Metode-Metode Pengajaran Rasulullah ﷺ Bagian 1

Metode-Metode Pengajaran Rasulullah ﷺ Bagian 2

Metode-Metode Pengajaran Rasulullah ﷺ Bagian 3

Metode-Metode Pengajaran Rasulullah ﷺ Bagian 2

Metode-Metode Pengajaran Rasulullah ﷺ Bagian 2

 

Mengajarkan Syari’at Secara Bertahap

Selain metode pengajaran melalui praktek dan keteladan yang dilakukan dan dimiliki oleh Rasulullah ﷺ, beliau juga sangat memperhatikan tahapan dalam pengajaran. Inilah metode pengajaran Rasulullah ﷺ yang berikutnya yaitu mengajarkan syari’at secara bertahap. Beliau mendahulukan perkara yang paling penting, kemudian tingkatan di bawahnya. Dengan kata lain beliau mempunyai skala prioritas dalam pengajaran. Beliau juga mengajarkan syari’at sedikit demi sedikit dan secara bengangsur-angsur. Agar lebih mudah diterima dan lebih kokoh mengakar dalam hati, baik untuk dihafal, difahami maupun dipraktikkan.

Berikut ini beberapa hadits yang menunjukkan kepada kita bahwa Rasulullah ﷺ mengajarkan syari’at secara bertahap:

  1. Ibnu Majah meriwayatkan dari Jundab bin Abdullah r.a dia berkata:” Kami bersama nabi ﷺ, saat itu kami adalah para pemuda yang sebaya. Kami belajar tentang keimanan sebelum belajar tentang Al-Qur’an. Kemudian kami belajar tentang Al-Quran. Sehingga dengannya bertambahlah keimanan kami. (1/23 dalam Muqaddimah, bab fi Al-Iman)
  2. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah ﷺ mengirim Mu’adz ke Yaman, beliau pun berpesan, “Engkau akan mendatangi penduduk dari kalangan Ahli Kitab. Ajaklah mereka kepada persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah dan diibadahi kecuali Allah ﷻ dan bahwa aku adalah utusan Allah ﷻ. Jika mereka telah menaatimu atas hal itu, maka beritahu mereka bahwa Allah ﷻ telah mewajibkan atas mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka lalu dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka. Jika mereka sudah menaatimu atas hal tersebut, maka jauhilah harta-harta paling berharga milik mereka. Takutlah kamu terhadap do’anya orang yang terzhalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dan Allah ﷻ.  (H.R. Bukhari-Muslim)
  3. Imam Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya, dari Muhammad bin Fudhail dari Atha’ dari Abu Abdurrahman As-Sualmi Al-Muqri dia berkata: Telah mneceritakan kepada kami seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang mengajarkan bacaan Al-Quran kepada kami, bahwa mereka mempelajari sepeuluh ayat dari Rasulullah ﷺ, mereka tidak mempelajari sepuluh ayat lainnya sehingga mengetahui ilmu dana mal yang ada di dalamnya.
  4. Ath-Thabari mengeluarkan riwayat dalam tafsirnya, dari Al-Husain bin Waqid, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy dari Syaqiq dari Ibnu Mas’ud, dia berkata: Setiap orang di antara kami jika mempelajari sepuluh ayat Al-Quran, dia tidak akan menambah (mempelajari ayat lainnya) sampai mengetahui makna-makna yang terkandung di dalamnya dan beramal dengannya.

Demikianlah metode pengajaran yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ  kepada para sahabat, yaitu dengan cara mengajarkan mereka secara bertahap dimulai dari hal yang paling penting tentang tauhid dan keimanan-dan inilah yang menjadi tema dakwah Rasulullah ﷺ pada peride Makkah selama 13 tahun-, kemudian dilanjutkan dengan mengajarkan mereka syari’at-yang beliau lakukan pada periode Madinah selama 10 tahun. Rasulullah ﷺ juga mengajarkan kepada para duta dakwah beliau agar mereka mengajarkan Islam secara bertahap. Dan para sahabat pun ketika mereka mempelajari Al-Quran, mereka tidak mempelajarinya secara keseluruhan (sekaligus) akan tetapi secara bertahap agar selaras antara pemahaman dan praktik dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga kita sebagai guru dan da’i bisa meneladani rasululllah ﷺ dan para sahabat beliau r.a dalam mengajarkan Islam kepada anak didik kita dan objek dakwah kita, sehingga islam tidak hanya dihafal dan digahami saja, akan tetapi bisa terhunjam kuat dalam hati mereka dan menjalani amalan harian mereka.

Ustadz. Mulyana, S.Pd.I | Kabid Pendidikan & Pengajaran (Dikjar)

 

Metode-Metode Pengajaran Rasulullah ﷺ Bagian 1

Metode-Metode Pengajaran Rasulullah ﷺ Bagian 2

Metode-Metode Pengajaran Rasulullah ﷺ Bagian 3

Metode-Metode Pengajaran Rasulullah ﷺ Bagian 1

Metode-Metode Pengajaran Rasulullah ﷺ Bagian 1

Keteladanan Dengan Perilaku Yang Baik Dan Budi Pekerti Yang Luhur
Salah satu metode pengajaran Rasulullah ﷺ yang paling penting, agung dan istimewa adalah melalui praktek atau keteladanan dengan tingkah laku yang baik dan budi pekerti yang luhur. Rasulullah ﷺ ketika memerintahkan sesuatu, beliau sudah mempraktekkannya terlebih dahulu, baru kemudian orang-orang mengikuti beliau dan mempraktekkan sebagaimana yang mereka lihat. Akhlak beliau adalah al-Quran. Beliau berada di atas budi pekerti yang agung. Allah ﷻ telah menjadikan beliau sebagi teladan yang baik bagi para hamba-Nya sebagaimana firman Allah ﷻ:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 21)
Metode pembelajaran melalui perbuatan dan praktek merupakan metode yang paling kuat dan berpengaruh di dalam hati, lebih cepat difahami dan dihafal, serta lebih menarik untuk ditiru dan diikuti daripada pengajaran dengan metode perkataan dan penjelasan. Metode ini juga merupakan metode yang alami. Inilah metode pengajaran beliau yang paling agung dan menonjol.


Diantara fakta pendukung bahwa penjelasan dengan perbuatan lebih kuat pengaruhnya daripada penjelasan dengan kata-kata adalah ketika Rasulullah ﷺ menandatnagani perjanjian damai dengan kaum kafir Quraisy di Hudaibiyah, beliau memerintahkan para sahabat agar bertahallul dari ihram dan menyembelih hewan qurban mereka. Beliau bersabda, “Bangkitlah kalian, lalu sembelihlah hewan qurban kalian dan cukurlah rambut kalian.”

Namun para sahabat berlambat-lambat untuk melaksanakan perintah beliau, karena mereka menganggap perjanjian itu tidak menguntungkan dan meykaini yang lebih utama adalah perang. Kemudian Rasulullah ﷺ menemui istri beliau ummu Salamah r.a, beliau mengabarkan kepadanya bahwa para sahabat mulai menyelisihi perintah beliau. Ummu Salamah menyarankan beliau agar mencukur kepala beliau dan menyembelih hewan qurban, agar para sahabat mengikuti beliau. Ketika para sahabat melihat Rasulullah ﷺ mencukur kepala dan menyembelih hewan qurban, mereka pun bangkit dan melakukan apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ.


Mengingat metode pengajaran beliau melalui perbuatan dan praktek langsung merupakan cara yang paling ampuh dan paling banyak dipakai dalam pengajaran beliau, maka berikut ini beberapa contoh yang termasuk dalam metode ini.

  1. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi dia berkata: “Aku pernah melihat Rasulullah ﷺ berdiri di atas mimbar, lalu beliau menghadap kea rah kiblat dan bertakbir, sedangkan orang-orang berdiri di belakang beliau. Kemudian beliau membaca Al-Quran dan ruku’, maka ruku’lah orang-orang di belakang beliau. Kemudian beliau mengangkat kepalanya, setelah itu beliau mundur sehingga beliau bisa bersujud di tanah (lantai). Ketika selesai mengerjakan shalat, beliau menghadap kea rah orang-orang, lalu bersabda, “Wahai manusia, aku melakukan hal ini, semata-mata agar kalian bisa mengikutiku dan agar kalian belajar tata cara shalatku.”
  2. Abu Dawud, An-Nasai dan Ibnu Majah telah meriwayatkan dari Amru bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya: Bahwasanya ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah ﷺ lalu berkata,”Wahai Rasulullah, bagaimanakah cara bersuci?” maka Rasulullah ﷺ minta diambilkan air dalam bejana. Lalu beliau membasuh kedua telapak tangan beliau tiga kali, lalu membasuh wajah tiga kali, kemudian membasuh kedua lengan tiga kali, selanjutnya mengusap kepala dan memasukkan dua telunjuk pada kedua telinganya, mengusap bagian luar kedua telingan dengan kedua ibu jari dan bagian dalamnya dengan kedua jari telunjuk, kemudian membasuh kedua kaki tiga kali tiga kali. Kemudian bersabda, “Beginilah cara berwudhu. Barangsiapa menambahi atau mengurangi yang seperti ini, maka dia telah berbuat kejelekan dan kedzhaliman.”
  3. Abu dawud meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a: Bahwasanya Rasulullah ﷺ pernah melewati seorang pemuda yang sedang menguliti kambing. Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Minggirlah, agar aku bisa memperlihatkan kepadamu.” Kemudian beliau memasukkan tangannya di antara kulit dan daging. Lalu beliau menekan-nekan dengan tangannya hingga tangan beliau tersembunyi di ketiak domba itu. Lantas beliau bersabda, “Wahai anak muda, beginilah caranya, kulitilah.” Kemudian eliau pergi, lalu beliau mengimami shalat orang-orang tanpa berwudhu lagi.
    Inilah metode pengajaran pertama yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ kepada para sahabat beliau yang sangat menyentuh dan meresap ke dalam kalbu para sahabat, yaitu melalui keteladanan yang baik dan akhlak yang mulia. Semoga kita sebagai guru bagi para siswa kita, dan orang tua bagi anak-anak kita bisa mengambil pelajaran dari apa yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ dan menerapkannya dalam pendidikan mereka sehari-hari.

Ustadz. Mulyana, S.Pd.I | Kabid Pendidikan & Pengajaran (Dikjar)

 

Metode-Metode Pengajaran Rasulullah ﷺ Bagian 1

Metode-Metode Pengajaran Rasulullah ﷺ Bagian 2

Metode-Metode Pengajaran Rasulullah ﷺ Bagian 3

Keutamaan Orang yang Berilmu dan Berdakwah

Keutamaan Orang yang Berilmu dan Berdakwah

مَثَلُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا ، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا ، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى ، إِنَّمَا هِىَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً ، وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقِهَ فِى دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ ، فَعَلِمَ وَعَلَّمَ ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا ، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ

“Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagai ghaits (hujan yang bermanfaat) yang mengenai tanah. Maka ada tanah yang baik, yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah yang ajadib (tanah yang bisa menampung air, namun tidak bisa menyerap ke dalamnya), maka dengan genangan air tersebut Allah memberi manfaat untuk banyak orang, sehingga manusia dapat mengambil air minum dari tanah ini. Lalu manusia dapat memberi minum untuk hewan ternaknya, dan manusia dapat mengairi tanah pertaniannya. Jenis tanah ketiga adalah  tanah qi’an (tanah yang tidak bisa menampung dan tidak bisa menyerap air). Inilah permisalan orang yang memahami agama Allah, bermanfaat baginya ajaran yang Allah mengutusku untuk membawanya. Dia mengetahui ajaran Allah dan dia mengajarkan kepada orang lain. Dan demikianlah orang yang tidak mengangkat kepalanya terhadap wahyu, dia tidak mau menerima petunjuk yang Allah mengutusku untuk membawanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ilmu dan Petunjuk Dimisalkan Dengan Ghoits (Hujan)

Ilmu yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah ilmu syar’i (ilmu agama). Ilmu tersebut dimisalkan dengan ghoits yaitu hujan yang bermanfaat, tidak rintik dan tidak pula terlalu deras. Ghoits dalam Al Qur’an dan As Sunnah sering digunakan untuk hujan yang bermanfaat, seperti fimran Allah swt:

ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ

“Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras anggur.” (QS. Yusuf: 49)

Berbagai Macam Tanah

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan ada tiga jenis tanah. Tanah pertama adalah tanah yang baik yang dapat menyerap air sehingga tumbuhlah tanaman dan rerumputan yang disebut dengan naqiyyah.

Tanah kedua adalah tanah yang disebut ajadib. Tanah ini hanya bisa menampung air sehingga dapat dimanfaatkan orang lain (untuk minum, memberi minum pada hewan ternak dan dapat mengairi tanah pertanian), namun tanah ajadib ini tidak bisa menyerap air.

Kemudian tanah jenis terakhir adalah tanah yang disebut qii’an. Tanah ini tidak bisa menampung dan tidak bisa menyerap air. Sehingga tanah ini tidak bisa menumbuhkan tanaman.

Tingkatan Manusia Dalam Mengambil Faedah Ilmu

An Nawawi –rahimahullah– mengatakan, “Adapun makna hadits dan maksudnya, di dalamnya terdapat permisalan bagi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan al ghoits (hujan yang bermanfaat). Juga terdapat kandungan dalam hadits ini bahwa tanah itu ada tiga macam, begitu pula manusia.

Jenis pertama adalah tanah yang bermanfaat dengan adanya hujan. Tanah tersebut menjadi hidup setelah sebelumnya mati, lalu dia pun menumbuhkan tanaman. Akhirnya, manusia pun dapat memanfaatkannya, begitu pula hewan ternak, dan tanaman lainnya dapat tumbuh di tanah tersebut.

Begitu pula manusia jenis pertama. Dia mendapatkan petunjuk dan ilmu. Dia pun menjaganya (menghafalkannya), kemudian hatinya menjadi hidup. Dia pun mengamalkan dan mengajarkan ilmu yang dia miliki pada orang lain. Akhirnya, ilmu tersebut bermanfaat bagi dirinya dan juga bermanfaat bagi yang lainnya.

Jenis kedua adalah tanah yang tidak mendatangkan manfaat bagi dirinya sendiri, namun bermanfaat bagi orang lain. Tanah ini menahan air sehingga dapat dimanfaatkan oleh yang lain. Manusia dan hewan ternak dapat mengambil manfaat darinya. Dia memiliki ingatan yang bagus. Akan tetapi, dia tidak memiliki pemahaman yang cerdas. Dia juga kurang bagus dalam menggali faedah dan hukum. Dia pun kurang dalam berijtihad dalam ketaatan dan mengamalkannya. Manusia jenis ini memiliki banyak hafalan. Ketika orang lain yang membutuhkan yang sangat haus terhadap ilmu, juga yang sangat ingin memberi manfaat dan mengambil manfaat bagi dirinya; dia datang menghampiri manusia jenis ini, maka dia pun mengambil ilmu dari manusia yang punya banyak hafalan tersebut. Orang lain mendapatkan manfaat darinya,sehingga dia tetap dapat memberi manfaat pada yang lainnya.

Jenis ketiga adalah tanah tandus yang tanaman tidak dapat tumbuh di atasnya. Tanah jenis ini tidak dapat menyerap air dan tidak pula menampungnya untuk dimanfaatkan orang lain. Manusia jenis ini tidak memiliki banyak hafalan, juga tidak memiliki pemahaman yang bagus. Apabila dia mendengar, ilmu tersebut tidak bermanfaat baginya. Dia juga tidak bisa menghafal ilmu tersebut agar bermanfaat bagi orang lain.” (Syarh Muslim, 15/47-48)

Inilah penjelasan singkat hadits di atas, jika seseorang betul-betul merenungkannya tentu dia akan termotivasi untuk mempelajari ilmu syar’i (ilmu agama), mempelajari aqidah yang benar dan ajaran nabi yang shahih, juga dia akan termotivasi untuk menjaga dan menghafalkan ilmu tersebut. Juga agar dia mendapatkan keutamaan lebih dan tentu saja hal ini lebih urgent, yaitu hendaknya seseorang berusaha memahami apa yang dia ilmui sehingga dapat bermanfaat untuk dirinya sendiri. Setelah itu, hendaklah setiap muslim dapat menjadi insan yang selalu bermanfaat kepada orang lain.

Dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfaat bagi orang lain.” (Al Jaami’ Ash Shogir, no. 11608)

Manfaat yang dapat diberikan adalah dengan mendakwahkan ilmu, baik melalui hafalan yang dimiliki atau ditambah lagi dengan pemahaman mendalam terhadap ilmu tersebut. Apalagi saat ini sudah sangat banyak cara untuk belajar dan berdakwah , bisa secara langsung bertemu dengan jama’ah, bisa pula melalui berbagai macam media seperti media cetak atau pun dunia maya (dunia internet). Namun janganlah seseorang menjadi orang yang tercela karena enggan mempelajari ilmu syar’i, enggan mengamalkan dan enggan mendakwahkannya.

Semoga Allah memberikan kita keistiqomahan dalam mencari ilmu dan mendakwahkannya kepada orang lain.

Ustadz. Mulyana, S.Pd.I | Kabid Pendidikan & Pengajaran (Dikjar)

Copyright © 2026 LPIT Mutiara Hikmah

© 2014-2025 LPIT Mutiara Hikmah. All Rights Reserved.