Menyelami Makna Hijrah dalam Islam Bagian ke 2

Menyelami Makna Hijrah dalam Islam Bagian ke 2

PERAN PEMUDA DALAM HIJRAH

Sebagai sebuah peristiwa yang teramat penting, hijrah Rasulullah saw melibatkan banyak pihak, salah satunya adalah peran para pemuda Islam kala itu.

Jauh-jauh hari sebelum peristiwa hijrah, Rasulullah telah mengutus duta dakwah pertama dalam Islam yaitu Mush’ab bin ‘umair untuk mengkader para pemuda Yatsrib yang telah masuk Islam serta menyebarkan Islam di sana. Maka Mush’ab pun menemui salah seorang pemuda yang juga telah masuk Islam yaitu As’ad bin Zurarah, kemudian mereka menumui Sa’ad bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair yang juga merupakan para pemuda dan pemuka kaum mereka untuk mendakwahkan Islam kepada mereka, dan hasilnya mereka berdua pun masuk Islam. Mush’ab mengemban amanah dakwah dari rasulullah saw dengan sebaik-baiknya, sehingga banyak penduduk Yatsrib (yang kelak setelah Nabi tinggal di sana berubah namanya menjadi Al-Madinah Al-Munawwarah) yang memeluk agama Islam. Kerja keras Mush’ab bin ‘Umair ini kelak berbuah gegap gempitanya penduduk Yatsrib menyambut kedatangan  Nabi Muhammad saw. Penyambutan dirayakan dengan penuh haru ketika para perempuan dari kabilah Bani Najjar mendendangkan syair yang terkenal hingga sekarang, “Thala’al Badru ‘Alaina min Tsaniyyat al-Wada’ (Wahai bulan purnama yang terbit kepada kita dari lembah Wada’)”.

Ada pula peran Ali bin Abi Thalib yang juga masih muda kala itu. Ia rela menggantikan posisi Rasulullah saw di tempat tidur beliau guna mengelabui kaum musyirikin yang telah mengepung rumah Rasulullah saw yang hendak membunuh beliau. Ali bin Abi Thalib tahu betul resiko yang akan diterima, namun ia tetap tegar dalam mengemban amanah tersebut.

Ada juga peran remaja putri, yaitu apa yang dilakukan oleh Asma’ binti Abu Bakar r.a, dimana ia rela berjalan sendirian, mengendap-endap di kegelapan malam menghindari pengamatan orang-orang Quraiys. Ia melintasi bukit-bukit terjal dengan resiko jatuh ke dalam jurang, jika sedikit saja ia tergelincir. Ia pun menghadapi resiko tertangkap orang-orang kafir Quraisy yang terus mencari dan memburu Rasulullah saw. Saat Rasulullah saw dan Abu Bakar membutuhkan tali pengikat, maka ia merelakan bagian dari selendangnya untuk dibelah menjadi dua bagia sehingga ia pun mendapatkan julukan Daztun-Nithaqain (wanita yang berkorban dengan selendang yang dibelah menjadi dua). Namun ia juga tetap tegar dalam mengemban amanah tersebut, bahkan ketika ia diinterigasi oleh Abu Jahal, ia tetap tabah, tidak sedikitpun memberitahukan keberadaan Rasulullah saw, meskipun ia harus menerima tamparan keras dari Abu Jahal.

Ada pula peran yang dilakukan oleh Abdullah bin Abu Bakar, yang kala itu juga adalah salah seorang anaka muda. Setiap hari ia membawa kambing-kambing gembalaannya ke arah bukit Tsur guna menghapus jejak-jejak kaki saudarinya Asma’ binti Abu Bakar yang telah terlebih dahulu pergi ke sana, juga menghapus jejak-jejak kepulangan ‘Asma saat kembali dari gua Tsur. Selain itu ada pula tugas Abdullah bin Abu Bakar, yaitu memberika informasi lengkap kepada Rasulullah saw tentang perkembangan di kota Makkah, sehingga beliau mengetahui secara persis apa yang terjadi di sana dan bisa mengatur strategi yang jitu agar bisa lolos dari kejaran kafir Quraisy dalam peristiwa hijrah tersebut. Abdullah bin Abu Bakar mengemban amanah ini dengan sebaik-baiknya sehingga Rasulullah saw beserta Abu Bakar bisa selamat sampai ke Yatsrib-biidznillah- dan lolos dari kejaran kafir Quraisy.

Itulah beberap kisah tentang peran para pemuda dalam peristiwa besar hijrah. Kisah yang hanya ada dalam sejarah dakwah Islam. Kisah yang hanya mampu diemban oleh para pemuda dan pemudi yang sudah tersibghah oleh keimanan yang kokoh. Kisah yang begitu luar biasa, sehingga Umar bin Khaththab menetapkannya sebagai penanggalan Islam.

Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi kita sebagai para pemuda penerus dakwah untuk mentarbiyah diri kita sebaik mungkin. Siapa tahu, Allah swt menjadikan lewat tangan kita sejarah baru, sejarah kejayaan Islam dan kaum muslimin).

Ustadz. Mulyana, S.Pd.I | Kabid Pendidikan & Pengajaran (Dikjar)

Menyelami Makna Hijrah dalam Islam Bagian ke 1

Menyelami Makna Hijrah dalam Islam Bagian ke 1

Nama-nama Bulan dalam Islam

Sejarah

Penggunaan nama-nama bulan hijriyah seperti yang kita kenal saat ini telah dikenal pula pada masa jahiliyah (zaman sebelumnya diutusnya Nabi Muhammad saw sebagai rasul) . Hanya saja mereka tidak menetapkan ini tahun berapa, tetapi mereka menetapkan tahun tersebut berdasarkan peristiwa besar yang terjadi pada tahun tersebut. Misalnya saja kita mengetahui bahwa kelahiran Rasulullah Saw adalah pada tahun gajah dikrenakan pada tahun kelahiran Nabi Muhammad saw terdapat peristiwa besar yaitu datangnya pasukan gajah yang akan meruntuhkan ka’bah. Awal mula penggunaan angka dalam menetapkan tahun adalah ketika Abu Musa Al-Asyári sebagai salah satu gubernur pada zaman Khalifah Umar r.a. menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan. Khalifah Umar lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior waktu itu. Mereka adalah Utsman bin Affan r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Sa’ad bin Abi Waqqas r.a., Zubair bin Awwam r.a., dan Thalhah bin Ubaidillah r.a. Mereka bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah Saw. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Muhammad Saw menjadi Rasul. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan wafatnya Rasulullah saw.  Dan yang diterima adalah usul dari Ali bin Abi Thalib r.a. yaitu berdasarkan momentum hijrah Rasulullah Saw dari Makkah ke Yatstrib (Madinah). Maka semuanya setuju dengan usulan Ali r.a. dan ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah Saw. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke 6 setelah wafatnya Rasulullah saw. Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender hijriah ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku pada masa itu di wilayah Arab.

Nama-nama bulan

Kalender hijriah terdiri dari 12 bulan  sebagaimana tercantum dalam Al-Quran surat At-taubah ayat 36:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ

Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus..” (QS. At-Taubah: 36)

Berikut ini nama-nama bulan dalam Islam:

NoNama BulanTulisan ArabJumlah hari
1Al-Muharramالمحرم30
2Shafarصفر29
3Rabi’ul Awwalربيغ الاول30
4Rabi’ul Akhirربيغ الاخر29
5Jumadal Ulaجمادى الاولى30
6Jumadal Akhirahجماد الاخرة29
7Rajabرجب29
8Sya’banشعبان30
9Ramadhanرمضان30
10Syawwalشوال29
11Dzulqaidahذوالقعدة30
12Dzulhijjahذوالحجة29/30
Total354/355 hari

Arti nama-nama bulan hijriyah

Berikut asal usul penamaan bulan dalam kalender Hijriyah:

  1. Al-Muharram

Syekh Alamud Din As-Sakhawi di dalam kitabnya Al-Masyhurfi Asmail Ayyam wasy Syuhur telah menyebutkan bahwa bulan Al-Muharram di namakan Al-Muharram karena ia merupakan bulan yang diharamkan (disucikan). Mengingat orang-orang Arab di masa lalu berpandangan labil terhadapnya, terkadang dalam satu tahun mereka menghalalkannya, sedangkan di tahun yang lain mengharamkannya.

2. Shafar

Shafar artinya nol atau kosong. Bulan Shafar, dinamakan demikian karena rumah-rumah mereka kosong dari para penghuninya, sebab penghuninya pergi untuk berperang dan mengadakan perjalanan.

3. Rabiul Awwal

      Bulan Rabiul Awwal dinamakan demikian karena mereka menetap di rumahnya masing-masing. Al-irtiba artinya tinggal di keramaian daerah tempat tinggal. Bentuk jamaknya adalah arbi’a. Penamaan bulan ini pada masa Arab jahiliah bertepatan dengan musim semi.

4. Rabiul Akhir

Rabiul Akhir sama ketentuannya dengan Rabiul Awwal. Bulan ini bertepatan dengan musim semi.

5. Jumadil ula

Jumada, dinamakan demikian karena pada bulan itu air membeku. Menurut perhitungan mereka (orang-orang Arab di masa Jahiliah) bulan-bulan itu tidak berputar-putar —tetapi pendapat As-Sakhawi kali ini masih perlu dipertimbangkan kebenarannya—, sebab bulan-bulan itu menurut mereka dikaitkan dengan hilal. Dengan demikian, berarti bulan-bulan itu harus berputar. Barangkali mereka menamakannya dengan sebutan Jumada pada awal mulanya ialah di saat air sedang membeku.

6. Jumadil Akhirah

Jumada dijamakkan menjadi jumadiyat, sama wazannya dengan lafaz hubara yang jamaknya hubariyat. Lafaz jumada terkadang di-muzakkar-kan dan terkadang di-muannas-kan, maka dikatakan Jumadil Ula dan Jumadil Awwal, Jumadil Akhir, dan Jumadil Akhirah. Bulan ini bertepatan dengan cuaca yang membeku.

7. Rajab

Rajab, berasal dari tarjib, artinya menghormat; dijamakkan dalam bentuk arjab, rajab, dan rajabat. Bangsa Arab biasa menghormati bulan itu, yakni mengagungkannya, dan mereka menamai dengan Ashomm (tuli) karena mereka tidak mendengar suara peperangan di bulan itu. Bulan ini dinamakan rajab karena pada bulan ini orang-orang Arab melucuti ujung-ujung tombak mereka.

8. Syaban

Syaban berasal dari syaabai qabailu, artinya kabilah-kabilan itu mulai berpencar untuk mengadakan serangan. Dinamakan Sya’ban juga karena pada bulan ini mereka mengumpulkan persediaan air.

9. Ramadhan

Ramadhan berasal dari kata syiddatur ramda yang artinya panas yang terik. Pada bulan ini dahulu cuaca di Arab sangat panas sekali.

10. Syawwal

Syawwal berasal dari kata syalatil ibilu aznabaha lit taraq yang artinya unta itu mengangkat ekornya untuk kawin.  Pada bulan ini biasanya unta-unta dikawinkan dan  mengandung.

11. Dzulqadah Al-Qadah, dapat juga disebut Al-Qidah.

Dinamakan demikian karena mereka (orang-orang Arab) diam di tempatnya, tidak mengadakan peperangan, tidak pula bepergian. Pada bulan ini orang-orang Arab hanya duduk-duduk saja menunggu jama’ah haji dari luar kota Makkah yang akan melaksanakan ibadah haji.

12. Dzulhijjah Al-Hijjah dan Al-Hajjah.

Dinamakan demikian karena pada bulan ini orang-orang Arab melakukan haji di bulan itu walaupun pada masa jahiliyah, ibadah haji yang mereka lakukan sesuai hawa nafsu mereka tanpa ada tuntunan syari’at yang benar.

Dari uraian di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa penamaan bulan-bulan hijriyah setidaknya berdasarkan 3 fenomena/kebiasaan, yaitu: fenomena alam, fenomena sosial dan fenomena keagamaan.

Nama-nama bulan yang berdasarkan fenomena kejadian alam diantaranya: bulan Rabi’ul Awwal, Rabi’ul Akhir, Jumadal ula, Jumadal Akhirah, Ramadhan dan Syawwal. Adapun bulan-bulan yang berdasarkan kejadian sosial diantaranya: Al-Muharram, Shafar, Rajab, Sya’ban dan Dzul Qaidah. Adapaun yang berdasarkan fenomena keagamaan adalah bulan Dzulhijjah.

Dari 12 bulan tersebut, orang-orang Arab mengagungkan 4 bulan (tidak boleh melakukan peperangan di dalamnya) yaitu: Bulan Dzulqa’idah, Dzulhijjah, Al-Muharram dan Rajab. (bersambung)

Ustadz. Mulyana, S.Pd.I | Kabid Pendidikan & Pengajaran (Dikjar)

PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN DARING SELAMA MASA PANDEMI COVID-19 Bagian 2

PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN DARING SELAMA MASA PANDEMI COVID-19 Bagian 2

Pada tulisan yang pertama kita sudah membahas tentang problematika pembelajaran daring selama masa pandemi yang dihadapi oleh para pendidik (guru), diantaranya : membutuhkan ponsel pintar, komputer, atau laptop, membutuhkan kuota yang banyak, Membutuhkan kemampuan untuk menggunakan aplikasi ponsel pintar, Jaringan internet yang tidak stabil, Tidak semua siswa memiliki ponsel pintar, komputer atau laptop, waktu pembelajaran yang sangat terbatas. Pada tulisan ini kita akan mencoba membahas problematika pembelajaran daring selama masa pandemi Covid-19 yang dihadapi para siswa.

 Di bawah ini beberapa problematika yang dialami oleh para siswa selama pandemi Covid-19 antara lain:

  1. Membutuhkan ponsel pintar, komputer, atau laptop

Pembelajaran secara daring memaksa para siswa juga  untuk memiliki ponsel pintar, komputer atau laptop  yang bisa mendukung pembelajaran, padahal tidak semua siswa memiliki ponsel pintar, komputer atau laptop,  terutama para siswa yang hidup pas-pasan atau tinggal di pelosokan. Masalah akan muncul kembali jika dalam satu rumah bukan hanya 1 orang siswa yang belajar daring pada waktu yang bersamaan, tentu mereka harus berbagi pakai alat-alat tersebut, maka tidak jarang mereka berebut untuk memakai alat-alat tersebut.

  • Membutuhkan kuota yang banyak

Siswa yang memiliki ponsel pintar, komputer atau laptop  tidak secara otomatis bisa melakukan pembelajaran secara daring, karena ponsel pintar, komputer atau laptop pun tidak akan bisa berfungsi apabila tidak memiliki kuota internet yang harganya lumayan mahal, apalagi jika pembelajaran daring dilakukan setiap hari dalam jangka waktu yang lama. Apalagi jika satu rumah lebih dari 1 siswa yang belajar, maka akan semakin banyak pula kuota yang dibutuhkan.

  • Membutuhkan kemampuan untuk menggunakan aplikasi ponsel pintar, komputer atau laptop

Siswa yang memiliki ponsel pintar dan memiliki kuota pun masih memiliki problem lain, yaitu harus memiliki kemampuan untuk menggunakan aplikasi pembelajaran yang terdapat di ponsel pintar, komputer maupun laptop. Hal ini dikarenakan pembelajarn secara daring menggunakan aplikasi pembelajaran seperti google form, WhatsApp, google meet, zoom dll yang membutuhkan kemampuan untuk menggunakannya. Tidak jarang para siswa tidak bisa mengikuti pelajaran akarena mereka tidak tahu cara menggunakan ponsel pintar, komputer atau laptop untuk pembelajaran daring

  • Jaringan internet yang tidak stabil

Salah satu problem yang dihadapi siswa adalah jaringan internet yang kadangkala tidak stabil, terutama di daerah-daerah yang jauh dari perkotaan dan terpencil, sehingga seringkali proses pembelajaran terganggu.

  • Waktu pembelajaran yang sangat terbatas

Pembelajaran daring yang membutuhkan kuota tentu sangat berpengaruh terhadap waktu pembelajaran, karena semakin lama pembelajaran berlangsung semakin banyak pula kuota yang dibutuhkan baik oleh guru maupun siswa, oleh karena itu pembelajaran secara daring waktunya sangat terbatas, sehingga seringkali target kurikulum tidak tercapai dan pembelajaran tidak tuntas.

  • Sulit berinteraksi secara intensif dengan guru

Pembelajaran secara daring sangat berbeda dengan pembelajaran secara tatap muka langsung, dimana para siswa jika mereka tidak memahami sebuah pelajaran, mereka bisa langsung bertanya kepada guru-bahkan bisa berkali-kali bertanya-, namun dalam pembelajaran daring hal ini tidak bisa dilakukan sehingga banyak siswa yang tidak faham materi pembelajaran. Mereka pun kesulitan untuk mendapatkan penjelasan dari orang tua mereka, karena banyak orang tua juga yang tidak faham materi pelajaran yang diberikan kepada anak-anak mereka.

Demikianlah beberapa problematika yang dihadapi oleh para siswa dalam pembelajaran daring, tentunya masih banyak lagi problem yang dihadapi oleh para siswa karena antara satu siswa dengan siswa yang lain akan menghadapi problem yang berbeda.

Ustadz. Mulyana, S.Pd.I | Kabid Pendidikan & Pengajaran (Dikjar)

PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN DARING SELAMA MASA PANDEMI COVID-19-Bagian 1

PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN DARING SELAMA MASA PANDEMI COVID-19-Bagian 1

Saat ini dunia sedang dilanda penyebaran sebuah virus yang dikenal dengan corona virus disease (Covid-19) yang kini saat ini menjadi sebuah pandemi. Virus  ini bisa menyerang siapa saja dan bisa menyebabkan kematian, bahkan sudah banyak korban meninggal yang disebabkan virus ini,  oleh sebab itu perlu adanya tindakan dan kebijakan yang harus diambil oleh pemerintah untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19 di dunia dan negara kita Indonesia. Pandemi ini berdampak pada berbagai bidang sosial, ekonomi, agama, pendidkan dan lainnya. Bidang pendidikan pun mengalami dampak yang cukup signifikan. Sekolah dan perguruan tinggi ditutup dan pembelajaran dilakukan secara daring (dalam jaringan).

Perubahan proses kegiatan belajar dan mengajar  yang tadinya dilakukan secara tatap muka, saat ini dilakukan secara jarak jauh (dalam jaringan) melalui jaringan internet. Hampir seluruh sekolah atau perguruan tinggi di seluruh dunia saat ini hanya memaksimalkan pembelajaran dengan metode daring. Namun ternyata pembelajaran dengan model seperti ini menimbulkan berbagai macam problematika yang dihadapi oleh guru, siswa dan lembaga penyelenggara pendidikan. Dalam kesempatan ini kita akan membahas problematika yang dihadapi oleh para guru  yang akan kita bahas secara singkat berikut ini:

  1. Membutuhkan ponsel pintar, komputer, atau laptop

Pembelajaran secara daring memaksa para guru untuk memiliki ponsel pintar, komputer atau laptop  yang bisa mendukung pembelajaran, padahal tidak semua guru memiliki ponsel pintar, komputer atau laptop,  terutama para guru honorer yang gajinya sedikit yang hanya cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari secara sederhana.

  • Membutuhkan kuota yang banyak

Guru yang memiliki ponsel pintar, komputer atau laptop  tidak secara otomatis bisa melakukan pembelajaran secara daring, karena ponsel pintar, komputer atau laptop pun tidak akan bisa berfungsi apabila tidak memiliki kuota internet yang harganya lumayan mahal, apalagi jika pembelajaran daring dilakukan setiap hari dalam jangka waktu yang lama. Apalagi bagi guru honorer, gaji mereka yang kecil, dipaksa untuk dibagi antara memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan pembelian kuota.

  • Membutuhkan kemampuan untuk menggunakan aplikasi ponsel pintar

Guru yang memiliki ponsel pintar dan memiliki kuota pun masih memiliki problem lain, yaitu harus memiliki kemampuan untuk menggunakan aplikasi pembelajaran yang terdapat di ponsel pintar, computer maupun laptop. Hal ini dikarenakan pembelajarn secara daring menggunakan aplikasi pembelajaran seperti google form, WhatsApp, google meet, zoom dll yang membutuhkan kemampuan untuk menggunakannya.

  • Jaringan internet yang tidak stabil

Salah satu problem yang dihadapi guru –dan juga siswa- adalah jaringan internet yang kadangkala tidak stabil, terutama di daerah-daerah yang jauh dari perkotaan dan terpencil, sehingga seringkali proses pembelajaran terganggu.

  • Tidak semua siswa memiliki ponsel pintar, komputer atau laptop

Pembelajaran daring tidak hanya menuntut guru yang memiliki ponsel pintar, komputer atau laptop, akan tetapi juga para siswa dituntut untuk memiliki hal yang serupa. Seringkali para siswa tidak memiliki alat-alat tersebut, atau jika orang tua mereka memilikinya, mereka harus berbagi dengan saudara-saudaranya jika di rumah mereka tidak hanya satu orang yang belajar dalam waktu yang bersamaan. Tentu hal ini menyulitkan juga kepada para guru untuk bisa mengajar para siswa seperti ini.

  • Waktu pembelajaran yang sangat terbatas

Pembelajaran daring yang membutuhkan kuota tentu sangat berpengaruh terhadap waktu pembelajaran, karena semakin lama pembelajaran berlangsung semakin banyak pula kuota yang dibutuhkan baik oleh guru maupun siswa, oleh karena itu pembelajaran secara daring waktunya sangat terbatas, sehingga seringkali target kurikulum tidak tercapai dan pembelajaran tidak tuntas.

Demikianlah beberapa problematika yang dihadapi oleh para guru dalam pembelajaran daring, tentunya masih banyak lagi problem yang dihadapi oleh para guru karena antara satu guru dengan guru yang lain akan mengahadapi problem yang berbeda.

Ustadz. Mulyana, S.Pd.I | Kabid Pendidikan & Pengajaran (Dikjar)

“Tidak ada yang lebih pintar dari saya”

“Tidak ada yang lebih pintar dari saya”

Di dalam berbagai kitab hadits seperti shahih Bukhari, Shahih Muslim dan yang lainnya, dikisahkan bahwa Nabi Musa ‘alaihis salam berkhutbah dan memberi wejangan di hadapan Bani Israil air mata mereka mengalir dan hati mereka menjadi trenyuh. Setelah itu Nabi Musa pun berpaling, lalu ada seseorang menyusul beliau dan bertanya, “Wahai utusan Allah, apakah di atas muka bumi ini ada yang lebih berilmu darimu?”  Nabi Musa menjawab, “Tidak ada”.  Maka Allah pun menegur Nabi Musa ‘alaihis salam karena beliau tidak mengembalikan ilmu (tentang jawaban pertanyaan tersebut) kepada Allah swt.

            Lalu Allah mewahyukan kepada Musa; ‘Hai Musa, sesungguhnya ada seorang hamba-Ku yang lebih banyak ilmunya dan lebih pandai darimu dan ia sekarang berada di pertemuan dua lautan.’ Nabi Musa ‘Alaihissalam bertanya; ‘Ya Tuhan, bagaimana caranya saya dapat bertemu dengan hamba-Mu itu? ‘ Dijawab; ‘bawalah seekor ikan di dalam keranjang, kapan engkau kehilangan ikan tersebut maka di situlah hamba-Ku berada.’ Kemudian Musa pun berangkat ke tempat itu dengan ditemani muridnya yang bernama Yusya’ bin Nun. Maka Musa berkata kepada muridnya : “Aku tidak menugaskan engkau kecuali engkau mengabarkan kepadaku jika ikan telah terpisah darimu”. muridnya berkata, “Engkau tidak membebani tugas yang berat”.

            Setelah Nabi Musa dan muridnya melakukan perjalanan yang jauh dan mengalami beberapa kejadian yang aneh, di antaranya ikan yang dibawa oleh murid Nabi Musa hidup kembali -padahal sebelumnya telah mati- kemudian masuk ke dalam laut dan merasa letihnya Nabi Musa dalam melakukan perjalanan -padahal sebelumnya Nabi Musa tidak pernah merasa letih- , Maka mereka melihat seorang laki-laki yang sedang berselimutkan kain. Lalu Nabi Musa ‘Alaihissalam mengucapkan salam kepadanya. Nabi Khadhir bertanya kepada Musa; “Bagaimana bisa ada ucapan salam di negerimu?”. Musa berkata; “Saya adalah Musa.’ Nabi Khadhir terperanjat dan bertanya; ‘Musa Bani Israil.’ Nabi Musa menjawab; ‘Ya.’ Nabi Khadhir berkata kepada Musa; ‘Sesungguhnya kamu mendapatkan sebagian ilmu Allah yang diajarkan-Nya kepadamu yang tidak aku ketahui dan aku mendapatkan sebagian ilmu Allah yang diajarkan-Nya kepadaku yang kamu tidak ketahui.’ Musa berkata kepada Khadhir; ‘Bolehkah aku mengikutimu agar kamu dapat mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu? ‘Nabi Khadhir menjawab; ‘Sesungguhnya sekali-kali kamu tidak akan sanggup dan sabar bersamaku. Bagaimana kamu bisa sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu? ‘ Musa berkata; ‘In sya Allah kamu akan mendapatiku sebagai orang yang sabar dan aku pun tidak akan menentangmu dalam suatu urusan pun.’ Khadhir menjawab; ‘Jika kamu tetap mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan sesuatu hingga aku sendiri yang akan menerangkannya kepadamu.’ Musa menjawab; ‘Baiklah’.”

Nabi Musa telah berjanji kepada Nabi Khadir untuk bersabar terhadap apapun yang dilakukan oleh Nabi Khadir dan tidak akan menanyakannya sebelum dijelaskan, akan tetapi ketika Nabi Musa melihat kejadian-kejadian yang menurut beliau aneh, maka Nabi Musa pun tidak sabar dan berkali-kali bertanya kepada Nabi khadir,  sebagaimana yang terdapat dalam Q.S Al-Kahfi ayat 71- 82, sehingga akhirnya mereka berdua pun berpisah setelah Nabi Musa mendapatkan penjelasan tentang apa yang dilakukan oleh Nabi Khadir yang dianggap aneh.

Dari kisah ringkas di atas, kita bisa mengambil beberapa pelajaran dalam hal ilmu, di antaranya:

  1. Tidak boleh seseorang mengatakan bahwa tidak ada orang yang lebih pintar daripada saya. Nabi Musa ‘alaihis salam ketika mengatakan “tidak ada yang lebih pintar dari saya” bukan karena sombong, akan tetapi karena sepengetahuan beliau di kalangan Bani Israil tidak ada yang lebih berilmu dari Nabi Musa ‘alaihis salam. Ini saja ditegur oleh Allah swt, apalagi jika kita mengatakannya karena kesombongan.
  2. Pentingnya menuntut ilmu. Nabi Musa ‘alaihissalam meninggalkan Bani Israil untuk menuntut ilmu. Seorang Nabi saja masih mau untuk menuntut ilmu yang belum diketahuinya, apalagi manusia biasa yang ilmunya sangat sedikit.
  3. Keutamaan bersafar dan bersabar dalam menuntut ilmu. Nabi Musa ‘alaihissalam bersafar untuk mencari ilmu. Sampai beliau mengatakan rela untuk berjalan sampai bertahun-tahun untuk bertemu dengan nabi Khadhir ‘alaihissalam untuk belajar. Oleh karenanya para ulama tatkala mengomentari sabda Rasulullah ﷺ,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Dan barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”

Para ulama mengatakan bahwa Rasulullah mengkhususkan penyebutan ilmu merupakan jalan menuju surga karena jalan tersebut adalah jalan termudah yang bisa ditempuh dan ilmu itu dapat membuka pintu-pintu kebaikan yang lain.

  • Bolehnya seseorang mengambil pembantu. Akan tetapi dalam rangka mengambil pembantu, hendaknya mencari orang yang cerdas sebagaimana nabi Musa ‘alaihissalam mengambil Yusya’ bin Nun sebagai pembantu. Karena Yusya’ bin Nun setelah hari itu kelak diangkat menjadi nabi.
  • Hendaknya seseorang mengambil ilmu dari orang di bawahnya. Nabi Musa ‘alaihissalam lebih utama daripada nabi Khadhir ‘alaihissalam. Akan tetapi karena nabi Musa ‘alaihissalam tidak memiliki ilmu yang dimiliki oleh nabi Khadhir, maka Musa rela untuk menemui Khadhir. Oleh karena itu seseorang hendaknya tidak angkuh, karena bisa jadi dia seorang yang alim, akan tetapi ada suatu bidang ilmu yang dia tidak ketahui.
  • Hendaknya seseorang tatkala belajar dengan seorang guru, mengucapkan perkataan yang merendah. Kata para ulama, tatkala seorang menuntut ilmu harus menunjukkan kebutuhan terhadap seorang guru. Tidak boleh menyombongkan diri dengan menunjukkan rasa tidak butuh.
  • Hendaknya seorang pembantu memakan apa yang dimakan oleh tuannya. Sebagaimana nabi Musa ‘alaihissalam hendak makan bersama.
  • Hendaknya seseorang bersabar hingga mendapatkan hikmah di balik setiap peristiwa. Sebagaimana nabi Musa ‘alaihissalam tidak dapat bersabar dari peristiwa yang dilihatnya karena tidak mengetahui hikmah dibalik itu. Oleh karena itu tatkala seseorang menyadari bahwa ada hikmah dari setiap musibah yang menimpanya, maka pasti dia akan mampu untuk bersabar. Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa tatkala seseorang terkena musibah, terkadang Allah langsung menampakkan hikmahnya, terkadang Allah menunda hingga bertahun-tahun, dan bahkan terkadang tidak dapat seseorang ketahui hikmahnya. Sehingga tatkala seseorang tidak dapat mengetahui hikmah di balik musibah yang menimpanya, hendaknya dia melihat kisah nabi Musa ‘alaihissalam dan nabi Khadhir ‘alaihissalam, karena Musa ‘alaihissalam yang sebagai nabi sendiri tidak paham hikmah dibalik perbuatan nabi Khadhir ‘alaihissalam.

Ustadz. Mulyana, S.Pd.I | Kabid Pendidikan & Pengajaran (Dikjar)

Copyright © 2026 LPIT Mutiara Hikmah

© 2014-2025 LPIT Mutiara Hikmah. All Rights Reserved.